Dalam kabut pagi Kintamani, tersimpan kisah tentang seorang anak yang memandangi pegunungan dengan mimpi yang tumbuh lebih tinggi dari puncak di hadapannya. Ia lahir dan besar di lingkungan sederhana, di tengah orang tua yang menjalani hidup sebagai petani sekaligus pedagang. Dari tanah dingin di sekitar Danau Batur, ia belajar bahwa hidup menuntut ketekunan, keberanian, dan kejelian membaca peluang. Sejak dini, ia memahami satu hal penting, masa depan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diperjuangkan.
Dorongan orang tua untuk berani merantau menjadi fondasi awal pembentukan mental I Ketut Mardjana. Pendidikan membawanya keluar dari kampung halaman menuju Bangli, sebuah langkah besar bagi anak desa yang belum pernah melangkah jauh dari rumah. Lingkungan baru memaksanya beradaptasi, memahami perbedaan, serta menyelesaikan persoalan tanpa banyak keluhan. Dari pengalaman itulah ketahanan mentalnya perlahan ditempa.
Perjalanan berlanjut ketika ia melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Denpasar. Kota membuka cakrawala baru tentang luasnya dunia dan beragam kemungkinan yang dapat diraih melalui pendidikan. Setelah lulus, langkahnya membawanya ke Jakarta untuk menempuh pendidikan di Institut Ilmu Keuangan, yang kini dikenal sebagai Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Pilihan tersebut lahir dari harapan orang tua agar ia memiliki pijakan hidup yang lebih kokoh. Meski di dalam dirinya tersimpan ketertarikan pada dunia teknik dan mesin, khususnya otomotif, ia tetap menjalani bidang akuntansi dengan penuh kesungguhan. Baginya, pendidikan adalah kunci utama membuka jalan kehidupan.
Setelah menyelesaikan pendidikan, ia memulai karier di Departemen Keuangan. Disiplin dan ketekunan membawanya pada kesempatan besar untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Ia meraih beasiswa dan melanjutkan pendidikan di Monash University, Melbourne, Australia. Di sana, ia tidak hanya memperdalam ilmu, tetapi juga membentuk cara pandang global tentang manajemen dan kepemimpinan. Pengalaman akademik tersebut menjadi bekal penting yang kelak membentuk langkah profesionalnya.
Sekembalinya ke Indonesia, perjalanan kariernya berkembang pesat. Ia dipercaya menduduki berbagai posisi strategis, termasuk sebagai komisaris di sejumlah perusahaan besar. Bahkan titik balik yang berpengaruh dalam hidupnya terjadi ketika ia menjabat sebagai komisaris PT Indocement Tunggal Prakasa di masa krisis moneter. Situasi sulit itu menguji ketajaman analisis dan keberaniannya dalam mengambil keputusan. Pengalaman tersebut meneguhkan keyakinannya bahwa keputusan besar sering kali lahir dari kondisi paling menantang.
Salah satu fase paling menentukan terjadi saat ia dipercaya memimpin PT Pos Indonesia sebagai Direktur Utama pada periode 2008 hingga 2013. Saat itu, perusahaan tengah menghadapi tantangan berat. Dengan pendekatan manajerial yang disiplin dan berbasis keuangan yang kuat, ia berhasil membawa Pos Indonesia keluar dari tekanan dan mencatatkan kinerja positif. Periode tersebut memperkuat reputasinya sebagai pemimpin yang mampu bekerja dalam situasi krisis. Dari sanalah tumbuh keinginan untuk menciptakan sesuatu yang bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi banyak orang.
Keinginan tersebut kemudian diwujudkan melalui Toya Devasya. Keputusan membangun usaha ini tidak semata didorong oleh naluri bisnis, melainkan oleh rasa tanggung jawab moral kepada desa yang pernah membantunya meraih pendidikan. Toya Devasya yang berdiri pada tahun 2002 menjadi bentuk balas budi dan pengabdian terhadap tanah kelahiran.
Perjalanan membangun Toya Devasya tidak pernah sepenuhnya mulus. Ada masa ketika aset hilang dan pengelolaan nyaris terbengkalai hingga hampir dilelang. Namun ia memilih bertahan. Seluruh fasilitas diperbarui, sistem dibenahi, dan semangat baru ditanamkan. Perlahan, kepercayaan kembali tumbuh. Tamu mulai berdatangan dan Toya Devasya bangkit sebagai ikon pariwisata Kintamani.
Identitas Toya Devasya dibangun dengan filosofi yang kuat. Warna ungu dipilih sebagai simbol nilai tertinggi, sementara gajah dijadikan ikon utama. Telinga besar melambangkan kesediaan mendengar, mata kecil menandakan fokus pada tujuan, mulut kecil mengingatkan pentingnya berbagi, belalai menjadi simbol memakmurkan lingkungan, dan tubuh besar mencerminkan keberanian membuka jalan. Filosofi ini hidup dalam setiap keputusan yang diambil.
Seiring perjalanan waktu, Toya Devasya tumbuh melampaui perannya sebagai destinasi wisata dan berkembang menjadi fondasi lahirnya Toya Group. Dari sana, arah pengembangan usaha mulai dirancang dengan lebih terstruktur. Toya Ubud hadir sebagai resort dengan karakter kuat yang menjadikan air terjun sebagai objek utama pengalaman, menawarkan kedekatan dengan alam yang menjadi ciri khasnya. Toya Yatra Santhi bergerak di bidang perjalanan dan melengkapi ekosistem usaha yang terus bertumbuh. Untuk menopang pengelolaan Toya Devasya dan Toya Ubud, kelompok usaha ini juga menangani pemasaran bagi berbagai unit lain yang membutuhkan keahlian dan jaringannya. Sementara itu, Toya Hospitality Management dibentuk untuk mengelola properti dan perusahaan milik para investor atau pemilik usaha yang tidak memiliki waktu mengelola secara langsung, menghadirkan sistem pengelolaan yang profesional dan berkelanjutan. Di sisi lain, Toya Rasana Mandala membawahi Kawah Bake n Brew untuk produksi dan penjualan coffee, bakery and pastery, memperkaya lini bisnis dengan sentuhan kreativitas dan pelayanan.
Toya Group pada akhirnya menjadi perwujudan dari mimpi kecil sang pendiri ketika pertama kali membangun Toya Devasya, mimpi yang tumbuh dari kemauan keras, tekad yang tidak mudah goyah, dan perjuangan panjang yang dijalani dengan kesabaran. Bagi I Ketut Mardjana, seluruh perjalanan ini bukan sekadar tentang membesarkan usaha, melainkan tentang menyatukan tujuan hidup dengan karya yang memberi manfaat bagi banyak orang. Ia percaya bahwa apa yang dibangun dengan niat baik dan ketekunan akan menemukan jalannya sendiri, tumbuh secara alami, dan kelak dapat diteruskan sebagai warisan nilai oleh generasi berikutnya, tanpa kehilangan ruh yang sejak awal menjadi napas perjalanannya.
Di usia yang mendekati tujuh puluh lima tahun, I Ketut Mardjana tetap bergerak dengan tujuan sederhana namun bermakna, yakni memberi manfaat bagi banyak orang. Ia berharap apa yang telah ia bangun dapat berkelanjutan dan diteruskan oleh generasi berikutnya. Kepada anak muda, pesannya jelas, jangan ragu melangkah. Dengan keyakinan dan tekad yang kuat, niscaya jalan sukses akan terbuka lebar.