Dalam senyap subuh yang membasuh pepohonan di tepi Sungai Ayung, sebelum aliran pengunjung mulai mengisi destinasi yang menjadi ikon baru pariwisata budaya, sosok yang berjalan dengan langkah tenang itu memandang satu persatu patung bidadari yang berdiri berderet menyapa udara. Senyum tipisnya mengembang seperti seseorang yang tengah menyaksikan mimpi lamanya menjadi nyata. Di antara desir angin yang membawa aroma tanah basah, ada rasa syukur dan keyakinan yang menyatu. Keyakinan bahwa budaya tidak seharusnya hanya dikenang, namun dihidupkan. Bahwa warisan leluhur bukan artefak masa lalu, melainkan spirit yang terus berevolusi. Sosok itu adalah Prof. Dr. Tjokorda Gde Raka Sukawati, S.E., M.M., figur yang berdiri di antara profesionalisme modern dan kesetiaan terhadap nilai budaya Bali.
Prof. Dr. Tjokorda Gde Raka Sukawati, S.E., M.M merupakan putra bungsu dari penglingsir Puri Agung Ubud, Ida Tjokorda Gde Agung Sukawati dalam pernikahannya bersama Anak Agung Biang Rai. Ia lahir pada 16 Juli 1961 dan dikenal dengan sapaan Tjok Gde Campuhan. Sebuah panggilan yang bukan sekadar nama, tetapi representasi keterikatannya dengan nilai sejarah serta spiritualitas Ubud. Sejak kecil ia tumbuh di lingkungan yang hidup berdampingan dengan kesenian, ritual, tarian sakral, serta tradisi yang mengalir dalam keseharian masyarakat. Bersama kedua kakaknya ia menyaksikan betapa budaya tidak pernah menjadi hal yang dipamerkan, melainkan diamalkan.
Ia memulai pendidikan di Sekolah Dasar di Ubud, kemudian melanjutkannya ke SMP Negeri Satu Ubud, hingga menempuh pendidikan di SMA Katolik Swastiastu Denpasar. Pendidikan bukan sekadar kewajiban baginya, namun jendela melihat dunia dengan perspektif lebih luas. Bekal semangat membawanya meneruskan S1 Ekonomi di Universitas Udayana kemudian mengambil Magister Ekonomi dengan konsentrasi pemasaran di kampus yang sama. Ia juga menyelesaikan penyusunan Disertasi Doktor Ekonomi di Universitas Udayana yang semakin mengasah pemahamannya tentang pembangunan, ekonomi pariwisata, dan manajemen yang berpihak pada keberlanjutan.
Di luar dunia akademik ia aktif sebagai seorang Sangging. Keterlibatannya dalam kegiatan keagamaan serta kebudayaan semakin menguatkan fondasi spiritual dan pemahamannya tentang filosofi Bali. Dari sana ia belajar bahwa harmoni adalah garis panduan, bukan sekadar slogan. Pengalaman meniti ranah profesional sembari menjaga warisan adat menjadikannya percaya bahwa dua dunia itu tidak harus bertentangan. Ada ruang besar di mana keduanya dapat saling menguatkan. Nilai budaya leluhur bukan penghambat inovasi. Justru menjadi penuntun agar inovasi tidak kehilangan arah.
Prof. Tjokorda Gde Raka Sukawati dikenal sebagai salah satu tokoh pariwisata budaya yang berpengaruh. Pada masa pandemi ketika dunia seakan berhenti bergerak dan ketidakpastian menjadi isi setiap percakapan, ia justru menyimpan keyakinan yang berbeda. Keyakinan bahwa krisis bukan hanya tentang kehilangan, namun tentang menemukan ulang jati diri. Dalam masa itulah gagasan membangun Taman Dedari muncul dengan dasar filosofi yang mendalam, bukan semata destinasi wisata, bukan sekadar proyek monumental.
Taman Dedari dilandasi oleh pemahaman spiritual atas perjalanan Rsi Markandya. Ia mendalami keberadaan Desa Kedewatan melalui kajian filosofis dan keyakinan pada spiritualitas perjalanan sang Rsi. Melalui sejarah nama Kedewatan erat kaitannya dengan makna kata dewa, kemudian adanya Sungai Ayung juga memiliki makna ayu yang berarti indah atau cantik, jadi dari pemahaman tersebut dimuliakanlah simbol serta makna-makna tersebut melalui wujud patung bidadari. Pemahaman itu menegaskan bahwa secara tradisional sebuah tempat memiliki nilai serta menyimpan jejak yang seharusnya dirawat melalui karya dan secara modern adanya patung bidadari bisa menjadi branding yang amat kuat karena memang dilandasi dengan sejarah dan spiritualitas yang tidak bisa dipisahkan dari ruang. Baginya, ketika sebuah karya lahir tanpa menghormati tanah di mana ia berdiri, maka karya itu kehilangan rohnya.
Pariwisata Bali memiliki keunikan yang terletak pada hubungan harmonis antara manusia, alam, serta spiritualitas. Tri Hita Karana bukan sekadar konsep klasik yang diletakkan dalam seminar budaya atau brosur promosi pariwisata. Tri Hita Karana adalah napas yang hidup dalam setiap bangunan pura, setiap tarian sakral, bahkan setiap langkah pelestarian lingkungan. Ia berharap muncul lebih banyak penelitian mengenai nilai filosofis Bali sehingga generasi mendatang memahami hakikat budaya bukan hanya dari sisi pertunjukan, tetapi pemaknaan.
Taman Dedari berkembang pesat sebagai sebuah destinasi yang menyatukan estetika modern, tata kelola profesional, serta kedalaman budaya. Patung patung perempuan bersayap yang menyerupai bidadari bukan sekadar objek foto, melainkan simbol kehadiran energi dan perjalanan spiritual. Pengunjung datang bukan hanya untuk menikmati pemandangan, tetapi merasakan atmosfer yang menyuguhkan ketenangan dalam bingkai keindahan alam Kedewatan. Di sanalah profesionalisme bertemu warisan budaya, dan keduanya tidak saling meniadakan. Justru saling mengokohkan.
Prof. Tjokorda Gde Raka Sukawati memaknai pembangunan bukan sekadar mendirikan fisik yang megah. Ia percaya bahwa pembangunan adalah merawat memori kolektif dan menanam harapan bagi masa depan. Pesan yang ia sampaikan sederhana namun bermakna dalam bahwa masyarakat Bali harus berbasis pada budaya serta kearifan lokal dengan menggali nilai nilai leluhur secara tulus. Ia mengingatkan bahwa Tri Hita Karana bukan hanya nilai yang diucapkan, tetapi harus hadir sebagai implementasi nyata dalam kehidupan sosial, profesional, dan spiritual.
Baginya menjaga Bali bukan sekadar tanggung jawab generasi tertentu, tetapi amanat lintas waktu. Setiap jengkal tanah menyimpan cerita, setiap tebing memiliki makna, setiap pura membawa doa dari masa lampau. Bali telah memberikan ruang bagi banyak orang untuk bertumbuh, maka masyarakatnya juga harus tumbuh dengan kesadaran untuk memberi kembali. Ia berpesan agar setiap individu belajar dengan sungguh sungguh memanfaatkan pengetahuan sebagai alat menjaga identitas bukan meleburkan jati diri.
Melalui perjalanan hidup, pendidikan, praktik budaya, serta karya monumental yang lahir di masa penuh tantangan, Prof.Tjokorda Gde Raka Sukawati menjadi contoh nyata bagaimana nilai profesional dan spirit budaya dapat berjalan berdampingan. Taman Dedari hadir bukan hanya sebagai destinasi, tetapi sebagai saksi bahwa keyakinan yang teguh mampu melampaui situasi sulit serta sebagai simbol bahwa mimpi yang berakar dari budaya akan selalu menemukan jalannya pulang.
Ia menutup pesannya dengan ungkapan yang terasa seperti doa bagi tanah kelahirannya. Tetaplah menjaga Bali sebaik baiknya, sebab Bali sudah memberi semuanya, maka belajarlah yang baik. Sebuah pesan yang sederhana, namun menjadi pengingat bahwa masa depan tidak hanya dibangun dengan teknologi atau bisnis yang berhasil, melainkan kesetiaan pada identitas, penghormatan pada sejarah, dan ketulusan merawat warisan yang telah diwariskan.