Seberkas cahaya pagi menembus jendela sebuah ruangan sederhana, menghadirkan suasana tenang yang membangunkan semangat seorang anak muda yang kelak akan menjadi tokoh penting dalam dunia pariwisata Bali. Cahaya itu bukan sekadar sinar matahari. Itu adalah simbol perjalanan panjang Aloysius Purwa atau Al Purwa yang kelak mengubah nasib keluarganya, menorehkan pengaruh besar di industri tour and travel, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat Bali hingga Sumba. Semua berawal dari tekad seorang anak guru yang percaya bahwa hidup dapat ditempa melalui kerja keras, ketekunan dan keberanian mengambil langkah yang tidak ditempuh banyak orang.
Lahir pada tahun 1951 sebagai anak pertama dari enam bersaudara, Al Purwa tumbuh di lingkungan yang sederhana namun hangat. Ayahnya seorang guru SD dan ibunya mengurus keluarga sepenuh hati. Peran ayahnya sangat kuat karena ia mengajar kelas yang menjadi masa penting pembentukan karakter seorang anak. Lingkungan itu membangun dasar kepribadian Al Purwa yang disiplin, tekun dan mampu melihat terang bahkan dalam situasi yang paling menantang.
Ketika mengenyam pendidikan di SMP Swastiastu, ia menunjukkan kecerdasan yang konsisten. Pelajaran Bahasa Inggris menjadi favoritnya. Kemampuannya begitu menonjol hingga teman temannya meminta bantuan untuk mengerjakan tugas. Dari joki PR itulah ia pertama kali mengumpulkan uang sendiri. Sebuah awal kecil yang memperkenalkan kepadanya bahwa kemampuan dapat menjadi sumber rezeki jika digunakan dengan benar.
Memasuki masa SMA, hidup membawanya kepada ujian berat. Saat kelas dua ia mengalami kecelakaan motor yang membuatnya harus beristirahat di rumah selama enam bulan. Namun kecerdasan dan ketekunannya membuat ia tetap mampu mencapai ranking empat pada kenaikan kelas walau tidak mengikuti kegiatan sekolah selama setengah tahun. Ketika duduk di kelas tiga prestasinya semakin gemilang. Ia meraih juara umum paralel di seluruh angkatan. Pada Ujian Nasional ia memperoleh dua nilai sempurna dari lima mata pelajaran. Nilai 10 bahkan tertera di ijazahnya.
Setelah lulus, ia bekerja terlebih dahulu untuk membiayai kuliah. Selama tiga bulan ia menjadi tukang daging agar dapat mengumpulkan cukup dana. Jalan hidup membawanya ke Universitas Udayana pada fakultas Bahasa dan Sastra jurusan Bahasa Inggris. Semua biaya ditanggung oleh dirinya sendiri. Ia tidak ingin bergantung pada siapa pun karena tekadnya adalah mengangkat perekonomian keluarga.
Rutinitas hariannya sangat padat. Pagi hingga sore ia berkuliah. Malam hari dari pukul lima hingga sepuluh ia bekerja. Akhir pekan ia habiskan sebagai guide. Sejak menjadi mahasiswa tingkat pertama, ia bekerja sebagai waiter di sebuah restoran. Menjelang tingkat tiga ia mendapatkan kesempatan membantu Tjokorda mengembangkan sebuah tempat wisata di Ubud. Dua kali seminggu ia juga mengajar Bahasa Inggris untuk ibu Tjokorda dan beberapa rekan dekatnya. Ketika memasuki tahun terakhir kuliah ia sudah menjadi manager restoran yang dimiliki seorang warga Australia. Dari sinilah ia mulai memahami manajemen usaha, pelayanan dan pengelolaan tim.
Pada masa itu pula ia sering berkunjung ke Puri Saren Kangin karena hubungannya yang baik dengan Tjokorda. Di puri tersebut ia pertama kali bertemu perempuan yang kelak menjadi istrinya. Pertemuan yang sederhana namun membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Tahun 1974 ia memulai babak baru dengan bekerja di Jerman sebagai teknisi mesin. Setiap hari kerja ia berada di pabrik selama delapan jam. Kemampuan berbahasa Inggris dan sifatnya yang mudah bergaul membuatnya sering diundang direktur perusahaan untuk menemani bermain catur pada akhir pekan. Ia juga membantu sekretaris perusahaan memetik buah ceri yang tumbuh subur di halaman rumah. Pengalaman sembilan bulan di Jerman membentuk pemahaman mendalam tentang kedisiplinan, kebersihan serta kemampuan mengambil keputusan cepat dalam kondisi mendesak. Saat berada di Eropa ia menikah dengan perempuan yang ia temui di puri.
Pada tahun 1976 ia mendapatkan rumah dari mertuanya di Seminyak. Daerah itu masih berupa lahan pedesaan yang sepi. Justru di tempat seperti itulah insting bisnisnya tumbuh. Ia bekerja sama dengan petani menanam bawang dan sayuran lain. Hasilnya dibagi sesuai kesepakatan. Lahan itu perlahan berkembang menjadi wilayah pertanian subur. Ia kemudian melihat peluang lain. Ia bekerja sama dengan seorang warga yang berprofesi sebagai driver untuk membawa wisatawan ke desanya. Sesampainya di lokasi, driver itu mengantar para turis berkeliling. Selain itu ia menyewakan lima unit motor trail untuk wisatawan. Langkah langkah ini menjadikan ia salah satu orang yang berperan dalam mengenalkan Seminyak sebagai daerah wisata.
Tahun 1979 ia memulai usaha baru dengan membuka warung telepon. Beberapa tahun kemudian ia membeli Line ID dari perusahaan telekomunikasi dan mendatangkan mesin faksimile dari luar negeri. Dari bisnis wartel ia beralih menjual tiket pesawat. Pengalaman berhadapan dengan wisatawan membuatnya tertarik terjun lebih dalam ke dunia pariwisata. Tahun 1985 lahirlah Kuta Cemerlang Bali Jaya Tours atau KCBJ Tours yang kemudian menjadi bisnis besar dan dikenal luas. Di tahun yang sama ia membeli tanah di Canggu dan membangun vila. Keuntungan dari perusahaannya selalu ia arahkan menjadi aset produktif. Ia bahkan mendirikan hotel pertama di daerah Belimbing.
Setelah berhasil di Bali, ia memperluas garapannya ke Sumba pada tahun 2009 dengan membeli lahan enam hektar yang memiliki garis pantai tujuh kilometer. Kondisi daerah itu masih sangat minim fasilitas. Tahun 2010 ia kembali ke Sumba bersama Rotary tempat ia menjabat sebagai Past District Governor. Di sana ia membangun Sekolah Dasar, membuat sumur bor dan pada tahun 2012 mendirikan hotel. Hampir semua tenaga kerjanya berasal dari masyarakat setempat karena ia ingin mereka ikut berkembang. Tahun 2016 ia mendirikan sekolah Hospitality agar warga dapat memiliki keahlian profesional. Saat pandemi ia membagikan seratusan porsi sarapan setiap hari selama tiga bulan.
Kini fokus besarnya berada di Sumba untuk memajukan perekonomian lokal. Di balik seluruh pencapaiannya ia menyimpan kecintaan mendalam pada olahraga golf. Ia mengoleksi tujuh puluh delapan trofi selama tiga dekade bermain.
Jejaknya menjadi bukti bahwa kerja keras, ketulusan dan keberanian mencoba memberi ruang bagi seseorang untuk membangun dunia yang bermanfaat bagi banyak orang. Al Purwa bukan sekadar pengusaha, ia adalah bukti bahwa perjalanan panjang dapat mengubah bukan hanya hidup sendiri, tetapi juga hidup banyak orang di sekitarnya.