Keheningan pagi kerap menjadi ruang terbaik untuk merancang keputusan besar. Dalam ruang seperti itulah perjalanan Made Sidartha Arya dibentuk perlahan melalui disiplin, rasa ingin tahu, dan keberanian melihat masa depan lebih jauh dari zamannya. Sosok yang dikenal luas dengan nama Peter Arya ini tidak sekadar membangun hotel, melainkan merawat ekosistem usaha yang menyatukan manusia, teknologi, dan alam dalam satu napas panjang bernama keberlanjutan.
Made Sidartha Arya merupakan salah satu pengusaha senior Bali yang kiprahnya telah melewati berbagai fase penting industri pariwisata. Namanya berdiri di balik sejumlah properti perhotelan ternama seperti Legian Beach Hotel, Candi Beach Resort & Spa, Maya Ubud Resort & Spa, serta Maya Sanur Resort & Spa. Perjalanan tersebut tidak lahir secara instan, melainkan tumbuh dari fondasi pendidikan yang kuat dan pengalaman lintas disiplin yang membentuk cara berpikirnya secara utuh.
Masa pendidikan dasar hingga menengah ia jalani di lingkungan Swastiastu. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga menyelesaikan Sekolah Menengah Atas, prestasi akademiknya dikenal konsisten. Lingkungan sekolah menjadi ruang pembentukan karakter yang menanamkan kedisiplinan dan daya juang. Tahun 1974 menjadi salah satu tonggak penting ketika orang tuanya mendirikan Legian Beach Hotel, sebuah hotel yang pada masa itu telah dikenal luas dan menjadi destinasi berbagai kalangan tamu. Setahun kemudian, tepat pada 1975, ia menuntaskan pendidikan SMA dan mengambil keputusan besar untuk melanjutkan pendidikan ke Australia.
Perjalanan ke Australia tidak serta merta membawanya langsung ke bangku kuliah. Ia harus mengulang pendidikan SMA selama satu tahun, sebuah fase yang menguji ketekunan dan kerendahan hati. Tahun 1976 menjadi titik awal perkuliahan setelah ia memperoleh rekomendasi dari seorang rekan orang tuanya yang bekerja di Kedutaan Australia bagian pendidikan. Sosok tersebut memiliki keterkaitan personal sebagai tamu yang pernah menginap di Legian Beach Hotel, sebuah bukti awal bagaimana relasi yang dirawat dengan baik dapat membuka jalan baru.
Pilihan akademiknya terbilang tidak lazim untuk seorang calon pengusaha perhotelan. Ia menempuh pendidikan double degree selama lima tahun dengan mengambil jurusan Electrical Engineering dan Computer Science di salah satu universitas favorit Australia. Selama masa kuliah, ia tidak sepenuhnya bergantung pada dukungan keluarga. Waktu libur dimanfaatkan untuk bekerja secara freelance di beberapa tempat demi menambah pengalaman dan kemandirian finansial. Saat libur panjang, berkunjung ke Indonesia menjadi momen belajar langsung karena ia mulai dilibatkan dalam operasional Legian Beach Hotel, dari area front office hingga pemahaman dasar layanan tamu.
Tahun 1982 menandai kelulusan akademiknya dengan penyelesaian dua gelar sekaligus. Setelah itu, ia bergabung dengan Commonwealth Scientific Industrial Research Organisation atau CSIRO, sebuah lembaga riset terkemuka di Australia yang berfokus pada transfer teknologi antara Amerika dan Australia. Dari sekian banyak pelamar, ia termasuk sebelas orang yang diterima. Perannya sebagai Software dan Chip Designer mengasah ketelitian serta pemahaman sistem, terutama dalam proses pengujian desain perangkat lunak sebelum didistribusikan.
Setelah beberapa tahun berkarier dan menyerap budaya kerja riset yang ketat, tahun 1986 menjadi momen kepulangan ke Indonesia. Keputusan tersebut diiringi kepercayaan penuh dari orang tuanya untuk mengelola Legian Beach Hotel. Sejak saat itu, ia mengambil alih pengelolaan secara menyeluruh. Langkah ekspansi dimulai pada 1989 dengan pendirian Candi Beach Resort & Spa. Pada fase awal, ia bekerja sama dengan seorang konsultan guna memahami standar pengelolaan hotel yang lebih sistematis. Proses belajar tersebut berlangsung hingga 1990 sebelum akhirnya ia memilih mengelola seluruh unit usaha secara mandiri.
Latar belakang teknologi yang dimilikinya tidak pernah benar benar ditinggalkan. Tahun 1995, di tengah kesibukan mengelola hotel, ia merancang sebuah perangkat lunak khusus untuk kebutuhan operasional perhotelan. Proyek tersebut sempat terhenti hingga pertemuannya dengan seorang pengembang software membuka peluang kolaborasi. Hasilnya, sistem tersebut berhasil diselesaikan dan hingga kini telah digunakan oleh sekitar 45 hotel, menjadi bukti bahwa inovasi lintas bidang mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan.
Kepemimpinannya diuji secara nyata saat krisis moneter 1998 melanda Indonesia. Dalam situasi yang membuat banyak usaha tumbang, Legian Beach Hotel tetap mampu bertahan. Ketangguhan tersebut memperkuat keyakinannya untuk terus berkembang. Tahun 2000, ia mendirikan Maya Ubud Resort & Spa yang menyatu dengan alam Ubud, disusul Maya Sanur Resort & Spa pada 2014 sebagai perwujudan konsep resort modern yang selaras dengan karakter pesisir.
Kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar jargon. Tahun 2016, ketika wabah demam berdarah merebak, ia menciptakan Eco Friendly Mosquito Reduction System. Metode ini memanfaatkan perilaku alami nyamuk dengan menempatkan ember hitam di area tertentu sebagai perangkap telur, lalu memanfaatkan larva sebagai pakan ikan. Pendekatan ini terbukti efektif mengurangi populasi nyamuk tanpa merusak ekosistem. Prinsip keberlanjutan kembali teruji pada masa pandemi 2020, saat seluruh hotel tetap mempertahankan karyawan dan tidak ada staf yang terpapar Covid.
Seluruh perjalanan usahanya berpegang pada tiga prinsip utama. Economic Viability memastikan setiap keputusan usaha memiliki perhitungan matang. Socially Acceptable menjadi landasan hubungan yang baik antara manajemen, karyawan, dan tamu. Environmental Responsibility mengikat seluruh operasional agar tidak merusak alam sekitar. Prinsip ini tercermin pada pengelolaan limbah cair di Legian Beach Hotel yang diolah kembali untuk menyiram area hijau.
Pemanfaatan teknologi juga terus dikembangkan, salah satunya melalui sistem pemanas air berbasis energi matahari. Dengan kapasitas sekitar 246 kamar dan 280 staf, Legian Beach Hotel menjadi contoh bagaimana efisiensi energi dapat berjalan seiring dengan kenyamanan tamu. Di atas semua itu, Made Sidartha Arya memiliki visi untuk memperkenalkan wilayah Bali yang lebih luas kepada wisatawan, mendorong pemerataan pariwisata melalui edukasi yang dilakukan oleh para karyawan kepada tamu.
Perjalanan panjang ini menunjukkan bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari jumlah properti, melainkan dari kemampuan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, manusia, dan alam. Dalam setiap keputusan, ia menempatkan keberlanjutan sebagai arah utama, menjadikan karya hidupnya relevan lintas generasi.