Pilar Transformasi di Balik Lahirnya Sanga Sanga



Ada masa ketika sebuah perjalanan dimulai bukan dari rencana yang disusun dengan teliti, melainkan dari getaran kecil yang muncul di dalam diri seseorang. Getaran itu muncul pada diri Servasius Bambang Pranoto, pria yang kemudian akrab disapa Babe. Ia datang ke Bali karena sebuah bisikan batin yang sulit dijelaskan, sebuah dorongan yang membuatnya memilih arah timur tanpa keraguan. Langkah itu membawa ia memasuki babak baru yang penuh kejutan, titik balik yang akhirnya melahirkan sebuah brand minyak herbal yang dikenal banyak orang. Perjalanannya tidak berlangsung mulus. Ada masa ketika ia melewati sakit yang membuatnya terpuruk hingga lumpuh, ada masa ketika pasarnya diguncang oleh barang imitasi dan sengketa yang merusak kepercayaan konsumen. Namun setiap tantangan justru menjadi alasan bagi ia untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Dari sanalah Kutus Kutus lahir dan bertransformasi menjadi Sanga Sanga, sebuah perjalanan penuh makna dari seorang pria yang selalu memilih untuk mendengar suara hatinya lebih kuat daripada suara keraguan.

Babe pertama kali menginjakkan kaki di Bali pada tahun 2002. Kedatangannya bukan karena urusan pekerjaan atau tawaran besar. Ia hanya merasa harus menuju ke arah timur dan langkah itu membawanya ke pulau yang kemudian menjadi ruang tumbuhnya. Begitu tiba di Bali ia merasakan hawa yang berbeda, seolah pulau ini menyambut ia dengan energi yang selaras dengan apa yang ia cari. Di masa awal tinggal di Bali ia bekerja di Talisman Restaurant milik seorang teman. Anehnya ketika ia mulai bekerja disana penjualan restoran meningkat drastis. Banyak tamu datang tanpa alasan yang jelas seolah kehadirannya membawa keberuntungan tersendiri. Meski begitu ia hanya bertahan selama tiga bulan sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat lain.

Pekerjaan berikutnya membawanya ke Aneka Record sebuah studio musik yang membeli alat rekaman miliknya. Di sana ia bekerja bersama para musisi dan terlibat dalam pembuatan sebuah lagu yang dipersembahkan untuk mengenang tragedi bom Bali. Lagu itu diberi judul Tears In The Motion dan menjadi salah satu karya yang tertinggal dalam jejak karier musiknya. Setelah masa itu berlalu seorang teman menawarkan bantuan untuk membuatkan ia usaha restoran. Dari sana berdirilah Mangolango sebuah restoran yang sempat berada di masa jayanya. Namun ketika usaha itu mencapai puncak keberhasilannya Babe justru diuji dengan cobaan berat. Ia jatuh sakit dan tubuhnya lumpuh. Masa itu menjadi titik terendah dalam hidupnya.

Dalam kondisi terpuruk ia mencoba memahami pesan apa yang sebenarnya sedang diarahkan kepadanya. Ia bermeditasi mencari jawaban dan dari proses itu ia merasa mendapat petunjuk bahwa ia harus membuat minyak herbal. Tanpa menunda ia langsung mencoba mewujudkannya. Petunjuk itu menyebutkan bahwa minyak herbal tersebut harus dibuat dari empat puluh sembilan bahan dan kebetulan semua bahan itu mudah ditemukan hanya sekitar lima puluh meter dari rumahnya. Ia mencampurkan setiap bahan dengan penuh kesungguhan dan dengan sekali percobaan saja ia berhasil menemukan racikan yang tepat. Dari minyak itu ia sembuh dan menyadari bahwa inilah panggilan hidup yang sebenarnya.

Minyak tersebut awalnya diberikan kepada teman-teman terdekat untuk dicoba dan respons mereka sangat baik. Dari sanalah ia mulai berpikir untuk memasarkan minyak herbal ini. Namun ia menghadapi satu kendala penting yaitu aroma minyak yang tengik dan kurang nyaman bagi sebagian orang. Untuk mengatasi hal itu ia mempelajari ilmu aromaterapi dan mencampurkan minyak herbalnya dengan essential oil yang ia beli dari temannya. Hasilnya jauh lebih baik dan dari proses itu lahirlah brand Kutus Kutus pada tahun 2013. Nama itu ia dapatkan dari sebuah bisikan yang memberitahu bahwa brand ini harus diberi nama Kutus Kutus.

Seiring meningkatnya permintaan ia meminta temannya menjadi distributor agar bahan baku lebih mudah dipasok dan distribusi produk berjalan lebih lancar. Pada masa awal ia memproduksi lima ratus botol dengan kemasan kaca namun tidak ada satu pun yang terjual. Ia kembali memutar otak dan mengubah desain kemasan pada tahun yang sama. Produksi masih dilakukan di rumah namun pesanan mulai meningkat dan pada akhirnya ia mengubah restoran miliknya menjadi tempat produksi. Perjalanan tersebut membawanya menuju langkah besar berikutnya yaitu pembangunan pabrik Kutus Kutus pada tahun 2017 yang mulai beroperasi pada tahun 2019. Dari sana kapasitas produksi meningkat hingga tiga ribu botol per bulan.

Namun brand ini tidak selalu berjalan mulus. Kutus Kutus sempat menghadapi sengketa produk serta maraknya barang imitasi yang mengatasnamakan brand tersebut. Gangguan itu mempengaruhi pasar dan menciptakan tantangan yang harus ditangani dengan cepat. Ketika memasuki usia sepuluh tahun.Kutus Kutus mengalami perubahan penting. Brand itu diremajakan dan naik tingkat menjadi Sanga Sanga yang berarti sembilan puluh sembilan. Angka ini dianggap naik satu tingkat dari Kutus Kutus yang identik dengan angka delapan puluh delapan. Transformasi ini bukan hal mudah. Tantangan terbesar adalah meyakinkan konsumen bahwa Sanga Sanga adalah kelanjutan dari Kutus Kutus. Hal ini diperlukan karena Kutus Kutus sudah sangat melekat dengan pribadi Babe dan banyak orang sulit melepaskan asosiasi itu.

Pandemi Covid sempat menjadi masa yang mengejutkan. Banyak usaha terpuruk namun penjualan Kutus Kutus justru meningkat pesat. Hal ini terpengaruh oleh pesan Babe yang mengatakan bahwa menggunakan minyak herbal ini dapat membantu menjaga diri agar tidak mudah terserang virus. Keyakinan itu diperkuat oleh pengalaman istrinya yang menjadi satu satunya orang yang aman dari covid di lingkungannya berkat penggunaan minyak herbal tersebut. Keuntungan besar dari masa pandemi tidak ia gunakan untuk hal hal konsumtif. Ia memilih menginvestasikannya ke bidang akomodasi. Langkah ini ia lakukan agar seluruh karyawannya tetap bekerja tanpa ada yang diberhentikan.

Di balik lahirnya Sanga Sanga sebagai kelanjutan dari perjalanan panjang racikan herbal Nusantara, terdapat peran penting Riva Effrianti, pendamping sekaligus mitra perjuangan Babe. Riva Effrianti tidak hanya hadir sebagai istri, namun sebagai arsitek transformasi, penguat visi, dan penjaga kesinambungan nilai dalam perjalanan Sanga Sanga. Sejak awal masa transisi, Riva Effrianti berperan aktif dalam menata ulang arah bisnis, membangun sistem manajemen modern, serta menguatkan fondasi legal dan branding Sanga Sanga agar mampu tumbuh sebagai ekosistem usaha herbal yang berkelanjutan dan berdaya saing global.

Dengan latar belakang profesional dan ketajaman naluri bisnis, Riva Effrianti menjadi figur sentral dalam mengintegrasikan nilai spiritual Timur dengan tata kelola perusahaan modern, sehingga Sanga Sanga tidak hanya hadir sebagai produk, tetapi sebagai gerakan kesadaran hidup sehat berbasis kearifan lokal.

“Sanga Sanga lahir bukan sekadar sebagai merek, tetapi sebagai amanah perjuangan, warisan nilai, dan panggilan jiwa untuk memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat,” ungkap Riva Effrianti. Kolaborasi antara Babe sebagai peracik dan penjaga nilai tradisi, serta Riva Effrianti sebagai penggerak transformasi dan ekspansi, menjadikan Sanga Sanga simbol harmoni antara kearifan leluhur dan visi masa depan.

Setelah bertransformasi menjadi Sanga Sanga, brand ini tidak hanya memproduksi minyak herbal. Produknya berkembang ke dunia skincare dan kini memiliki sekitar dua puluh varian. Selain itu ekspansi juga dilakukan ke berbagai bidang lain. Babe memiliki studio radio sekolah digital di Salatiga dan bahkan mengakuisisi sebuah kastil di Amsterdam yang kini menjadi homebase Sanga Sanga untuk pasar internasional.

Jika ada satu benang merah yang terlihat jelas dari perjalanan Babe maka benang itu adalah keyakinan bahwa meraih cita cita tidak pernah mudah. Selalu ada yang berusaha menjatuhkan selalu ada rintangan yang membuat seseorang ingin berhenti. Namun ia memilih untuk terus melangkah. Ia percaya bahwa selama seseorang tetap mendengar panggilan dalam dirinya dan tidak mengabaikan petunjuk yang datang dengan cara yang tidak selalu dapat dijelaskan maka jalan itu akan membawa pada tempat yang menunggu untuk ditemukan. Dari suara yang memanggil ke arah timur hingga lahirnya Sanga Sanga perjalanan ini menjadi bukti bahwa tekad mampu mengubah ujian menjadi pijakan untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi.


Share on Whatsapp

Bali Pers