Pada suatu masa ketika malam masih diterangi cahaya lampu minyak dan hidup berjalan mengikuti irama alam, seorang anak desa tumbuh dengan tangan yang terbiasa bekerja dan hati yang dibentuk oleh kesederhanaan. Dari tanah sawah hingga arus sungai yang deras, perjalanan hidup I Wayan Suweca adalah kisah tentang ketekunan, keberanian mengambil keputusan, dan komitmen memajukan lingkungan sekitar tanpa melupakan akar tempat ia berasal.
I Wayan Suweca lahir di Desa Kapal Mengwi sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai petani yang setia mengolah sawah, sementara ibunya adalah pengrajin periuk tanah liat yang tekun mencetak keriuk dari tanah dan api. Sejak kecil ia telah akrab dengan kerja keras. Sawah dan tungku pembakaran bukanlah hal asing baginya. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang mengajarkan bahwa hidup tidak selalu mudah, namun selalu layak diperjuangkan.
Masa kecilnya dihabiskan di Desa Kapal pada tahun tujuh puluhan, saat listrik belum menjangkau rumah-rumah warga. Penerangan malam hanya mengandalkan lampu minyak tanah, makanan berasal dari hasil kebun dan sawah sendiri, dan waktu berjalan tanpa hiruk pikuk teknologi. Ia menjalani pendidikan sekolah dasar pada tahun 1976. Setiap pulang sekolah, ia tidak langsung bermain. Membantu orang tua adalah kewajiban pertama, barulah setelah itu ia bisa menikmati masa kanak kanak bersama teman sebayanya. Pola hidup ini perlahan membentuk karakter disiplin dan rasa tanggung jawab yang kelak menjadi fondasi kuat dalam hidupnya.
Memasuki masa sekolah menengah pertama di SMPN 2 Mengwi, kehidupannya mulai mengalami perubahan. Pada masa ini ayahnya mulai merintis usaha batu paras. I Wayan Suweca tetap berperan aktif membantu keluarga dengan menjaga toko batu paras tersebut. Dunia pendidikan dan dunia kerja berjalan beriringan. Ia belajar memahami nilai usaha sejak dini, bahwa setiap langkah kecil dapat membawa dampak besar jika dijalani dengan sungguh sungguh.
Perubahan yang lebih besar terjadi ketika ia melanjutkan pendidikan ke SMA PGA Negeri Denpasar. Untuk pertama kalinya ia merantau dan tinggal di kos. Hidup di kota membuatnya harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Uang saku mingguan sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah menjadi pelajaran penting tentang mengatur kebutuhan dan bertahan hidup secara mandiri. Pada masa ini, cita citanya sederhana namun mulia. Ia ingin menjadi seorang guru. Baginya guru adalah profesi yang terhormat dan mampu menjadi panutan bagi banyak orang.
Namun perpindahan dari desa ke kota tidak selalu mudah. Ia sempat merasa minder sebagai anak pindahan dari desa. Perasaan itu perlahan teratasi ketika ayahnya membelikan sebuah mobil pickup. Kendaraan tersebut tidak hanya membantunya berangkat sekolah, tetapi juga menjadi sarana untuk membantu ayah mengantar batu paras. Dari sini ia belajar bahwa keterbatasan bisa diubah menjadi kekuatan jika disikapi dengan cara yang tepat.
Setelah lulus SMA, arah hidupnya berubah. Saat itu pariwisata di Bali sedang berkembang pesat. Ia memutuskan banting setir dan masuk ke dunia pariwisata. Pilihannya jatuh pada PLP Mengwitani dengan jurusan akomodasi pariwisata yang mencakup berbagai aspek industri pariwisata. Keputusan ini ternyata selaras dengan minat dan kemampuannya. Ia menikmati proses belajar dan menemukan gairah baru di bidang tersebut.
Masa pelatihan dijalaninya dengan serius. Ia sempat menjalani training di sebuah resort di Bedugul sebagai waiter, lalu melanjutkan pengalaman di Bali Sol sebagai waiter dan bartender. Dunia pelayanan membentuk kepekaannya terhadap orang lain dan melatih etos kerja profesional. Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1989.
Setelah lulus, ia bergabung dengan Sheraton Laguna sebagai bagian dari housekeeping. Selama sepuluh tahun ia meniti karier hingga mencapai posisi supervisor housekeeping. Dalam kurun waktu tersebut, ia tetap setia membantu bisnis keluarga. Ia menjalani dua peran sekaligus dengan penuh tanggung jawab, menunjukkan bahwa dedikasi tidak mengenal batas ruang.
Pada tahun 1999, ia mengambil keputusan besar dengan berhenti dari pekerjaannya dan terjun ke dunia politik. Perjalanan ini berlangsung hingga tahun 2014. Di tengah aktivitas politik, ia juga membangun usaha kontraktor bersama rekanannya. Dari usaha inilah ia berhasil membangun Mayura Kencana Resort. Dunia usaha dan pengabdian publik berjalan beriringan dalam fase hidupnya ini.
Namun hidup tidak selalu bergerak naik. Antara tahun 2014 hingga 2017, ia mengalami masa jeda. Ia sempat mencoba berbagai usaha, namun tidak satu pun bertahan. Masa ini menjadi periode refleksi yang penuh pelajaran. Ia memilih diam sejenak, mengamati, dan menata ulang arah langkahnya.
Titik balik datang pada tahun 2017 ketika seorang teman mengajaknya membangun usaha rafting. Berbekal pengalaman pribadi bermain rafting, ia langsung melihat potensi besar di kawasan Bongkasa. Dari sanalah lahir Bali Alaska Adventure. Nama Alaska diambil dari Alas Kapal yang berarti orang yang berasal dari Kapal, sebuah penghormatan terhadap asal usulnya. Ia memulai usaha ini dengan membangun wahana rafting dan menyelesaikan seluruh perizinan pada tahun yang sama.
Terinspirasi dari konsep rafting di Ubud, ia melakukan berbagai inovasi. Ia memanfaatkan alam sekitar dan lanskap sungai untuk menciptakan kesan yang berbeda. Hasilnya luar biasa. Sejak awal dibuka, Bali Alaska Adventure mampu mendatangkan dua ribu pengunjung dan mencapai puncak kejayaan pada tahun 2019. Tantangan tentu ada, termasuk persaingan yang tidak selalu sehat. Namun ia memilih fokus pada kualitas dan keterlibatan masyarakat lokal.
Di Bali Alaska Adventure, ia mengajak warga setempat untuk bekerja sama memajukan desa. Sebagai pendatang di Bongkasa, ia justru mampu menjadi penggerak ekonomi lokal. Dari rafting, ia kemudian melakukan ekspansi usaha dan fasilitas. Langkah berikutnya adalah merambah dunia kuliner dengan membuka Bebek Bali Ubud pada tahun 2024. Restoran ini memadukan keindahan alam dengan kekayaan rasa bumbu tradisional. Menu andalan bebek timbungan menjadi daya tarik tersendiri yang jarang ditemui di Bali.
Tidak berhenti di sana, ia juga membuka Sena Villa Ubud sebagai pilihan akomodasi di kawasan Bongkasa. Seluruh usaha ini perlahan mulai ia wariskan kepada anak anaknya. Sejak awal membuka usaha rafting, ia telah melibatkan mereka agar memiliki prinsip kerja keras dan tanggung jawab yang sama.
Pesannya sederhana namun kuat. Kerja keras dan pantang menyerah adalah kunci. Poin utama dari perjalanan hidupnya adalah bagaimana usaha tidak hanya soal keuntungan, tetapi juga tentang memajukan desa dan membantu masyarakat lokal. Dari lampu minyak hingga arus deras sungai, I Wayan Suweca membuktikan bahwa ketekunan mampu mengubah nasib dan memberi manfaat bagi banyak orang.