Ketika Seni Menjadi Jalan Ilmu dan Teknologi Menjadi Jembatan Budaya



Keyakinan besar sering lahir dari kehidupan sederhana. Dari kebiasaan yang dijalani dengan kesungguhan, nilai kehidupan perlahan membentuk cara seseorang memandang dunia. Alam, kerja keras, dan seni menyatu dalam ritme kehidupan yang mengalir alami namun meninggalkan jejak mendalam. Dari pengalaman sederhana inilah perjalanan panjang seorang tokoh Bali bermula, melangkah konsisten hingga mampu menjembatani tradisi dengan perkembangan pendidikan dan teknologi.

Prof. Dr. I Made Bandem, MA lahir di Singapadu pada tahun 1945. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang kehidupannya dekat dengan alam dan seni. Ayahnya bekerja sebagai petani sekaligus penari, sementara lingkungan keluarganya juga akrab dengan aktivitas berkesenian. Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, ia terbiasa memikul tanggung jawab sejak kecil serta belajar melalui teladan kehidupan sehari-hari.

Masa kecilnya diwarnai kehidupan desa yang sarat tradisi. Sejak usia enam tahun, ia telah belajar tari Baris Tunggal langsung dari ayahnya. Pembelajaran tersebut tidak hanya menekankan teknik gerak, tetapi juga pembentukan sikap hidup. Ia diajarkan bahwa sebelum menjadi penari yang baik, seseorang harus menjadi manusia yang baik. Nilai tersebut menjadi fondasi karakter yang terus membimbing perjalanan hidupnya.

Pendidikan dasar ia tempuh di kampung halamannya. Sepulang sekolah, ia sering membantu orang tuanya bekerja di sawah. Dari pengalaman tersebut, ia belajar kesabaran, ketekunan, dan pentingnya menghargai proses. Pada masa sekolah dasar pula ia mulai mengenal gamelan serta berbagai tari tradisional seperti Kebyar, Arja, dan Legong. Kisah Mahabharata dan Sutasoma yang sering ia dengar dari neneknya turut menanamkan nilai moral dan filosofi kehidupan.

Setelah menyelesaikan sekolah dasar, ia melanjutkan ke SMP Negeri dan kemudian ke Konservatori Karawitan Indonesia (Kokar) Bali, kini SMKN 3 Sukawati). Lingkungan pendidikan seni semakin memperkuat kecintaannya terhadap kebudayaan. Setelah menamatkan pendidikan menengah, ia melanjutkan studi di Institut Hindu Dharma Denpasar (kini UNHI). Masa kuliah dijalaninya dengan penuh perjuangan karena harus membagi waktu antara belajar dan bekerja. Pada periode ini pula ia aktif berorganisasi dan pernah menjadi wakil ketua Gerakan Siswa Nasional Indonesia.

Tahun 1965 menjadi fase penting dalam hidupnya. Ia mulai mengajar di Kokar Bali dan sempat mengajar di Lombok. Pada tahun yang sama, ia dipercaya mengikuti misi kebudayaan Indonesia ke Korea Utara, China, dan Jepang. Pengalaman internasional tersebut membuka cakrawala pemikirannya dan memperlihatkan bahwa seni Bali memiliki daya tarik universal.

Pada tahun 1967, ia melanjutkan studi di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar. Masa studi ini singkat namun berpengaruh besar terhadap perkembangan akademiknya. Pada tahun yang sama, ia memutuskan untuk menikah, menandai fase kedewasaan pribadi yang berjalan seiring dengan perjalanan karier dan pendidikan.

Kesempatan besar datang ketika ia terpilih melanjutkan studi di University of Hawaii untuk mendalami riset seni. Ia tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga aktif menari dan bermain gamelan dalam berbagai workshop internasional. Ia mempelajari tari balet, tari modern, notasi tari, serta memperdalam bahasa Inggris. Ia juga mendapatkan bimbingan akademik sebelum melanjutkan pelatihan di UCLA. Kombinasi pengalaman pendidikan tersebut membentuk fondasi intelektual sekaligus perspektif global dalam dirinya.

Saat menjalani pelatihan tersebut, ia mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan Master of Arts (MA) sambil mengajar tari Bali di Amerika. Pada tahun 1970, ia menciptakan Sendra Tari Ramayana yang dipentaskan di Amerika Serikat. Dua tahun kemudian, ia meraih gelar MA dan memutuskan kembali ke Indonesia dengan membawa semangat pembaruan pendidikan seni.

Sekembalinya ke tanah air, ia berperan aktif dalam pengembangan sistem pendidikan seni di Indonesia. Ia terlibat dalam penyusunan kurikulum yang memasukkan unsur tari modern, kreativitas tari, sejarah tari, dan literasi seni. Pada tahun 1976, ia dipercaya memimpin tim UNESCO dalam penelitian musik dan budaya di Kalimantan Timur.

Pendidikan doktoral ia lanjutkan pada tahun 1977 di Wesleyan University dengan fokus etnomusikologi. Bahkan sebelum berangkat, ia telah menyiapkan gagasan disertasi tentang gamelan dan tari Bali. Studi doktoralnya berhasil diselesaikan dalam waktu tiga tahun, mencerminkan kedisiplinan dan ketajaman intelektualnya.

Tahun 1980 ia kembali ke Bali dan setahun kemudian dipercaya menjabat sebagai Ketua Akademi Seni Tari Indonesia Denpasar, (kini ISI Bali). Di bawah kepemimpinannya, ASTI berkembang hingga bertransformasi menjadi STSI dan ia memimpin selama 4 periode dari 1981-1997. Ia juga sering memimpin misi kebudayaan Indonesia ke Jepang, Eropa, Australia, Amerika Serikat, India, Thailand, dan Afrika  dengan membawa rombongan seniman Bali.

Pengabdian publiknya berlanjut ketika ia terpilih menjadi anggota DPD utusan daerah selama tiga periode. Setelah menyelesaikan tugas di ASTI dan STSI Denpasar ia menjadi Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta, mengajar di Universitas Gadjah Mada, serta merumuskan seni sebagai bidang ilmu mandiri. Pada tahun 2000, ia menyusun kerangka program magister seni dan tahun 2006 kerangka program doktor untuk institut seni di seluruh Indonesia.

Pertemuan antara seni dan teknologi mencapai puncaknya pada 14 Mei 2001 ketika ia bersama tiga rekannya yaitu Dr. Dadang Hermawan, Drs. I.B. Dharmadiaksa M.Si., Ak., Drs. Satria Darma mendirikan Yayasan Widya Dharma Shanti. Dengan visi memanfaatkan teknologi untuk menjaga dan mengembangkan budaya, lahirlah STIKOM Bali pada tahun 2002 dengan empat puluh mahasiswa dan fasilitas sederhana. Kini mahasiswa ITB STIKOM Bali mencapai 6.500 orang dan alumni hampir 12.000 orang.

Seiring waktu, institusi tersebut berkembang menjadi ITB STIKOM Bali dengan tujuh program studi dan visi menjadi universitas. Perjalanan hidup Prof. Dr. I Made Bandem, MA menunjukkan bahwa ketekunan, kecintaan terhadap seni, serta keberanian berinovasi mampu menyatukan tradisi, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk membangun masa depan tanpa meninggalkan akar budaya.


Share on Whatsapp

Bali Pers