Menggerakkan Kreativitas Lokal Menuju Panggung Nasional



Langkah hidup sering bermula dari ruang sederhana yang membentuk ketahanan dan keberanian. Suasana keluarga yang lekat dengan aktivitas usaha dan kerja keras menanamkan nilai perjuangan yang tidak mudah tergoyahkan. Ketut tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan arti ketekunan melalui pekerjaan sehari hari. Pengalaman masa kecil itu perlahan membentuk pola pikir yang mendorongnya untuk selalu bergerak maju, mencari peluang, serta membangun sesuatu yang memiliki nilai bagi banyak orang.

I Ketut Purnama atau yang akrab disapa Ketut merupakan pemilik Wake Bali yang lahir di Keramas, Gianyar pada tahun 1975. Ia berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang kewirausahaan. Ayahnya menjalankan usaha gabah sementara ibunya mengelola warung. Ketut menjadi anak terakhir dari empat bersaudara. Sejak kecil ia sudah akrab dengan aktivitas membantu pekerjaan keluarga seperti menjemur gabah dan menimbang hasil panen. Kegiatan tersebut tanpa disadari melatih ketelitian serta tanggung jawab. Jiwa wirausaha mulai tumbuh ketika ia mencoba berjualan kembang api saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia membeli kembang api di Gianyar lalu menjualnya kembali di Keramas. Pengalaman itu menjadi pelajaran awal dalam memahami cara membaca peluang usaha.

Pendidikan dasar ditempuhnya di sebuah sekolah negeri di kampung halamannya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan ke SMP Blahbatuh. Minatnya terhadap dunia teknik membawanya memilih SMK Rekayasa dengan jurusan mesin otomotif. Selama menempuh pendidikan menengah kejuruan, Ketut tetap aktif berjualan pakan ayam untuk menambah penghasilan sekaligus mengasah naluri bisnis. Ia menamatkan pendidikan SMK pada tahun 1994 dengan membawa bekal keterampilan teknis dan semangat untuk berkembang lebih jauh.

Keinginan memperluas wawasan membuatnya melanjutkan pendidikan ke Institut Teknik Mesin dengan jurusan teknik mesin di Yogyakarta. Kota tersebut dipilih karena dikenal sebagai pusat pendidikan yang memberikan ruang besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kreativitas. Selama enam tahun tinggal di Yogyakarta, Ketut tidak hanya fokus pada perkuliahan. Ia melihat peluang usaha melalui jaringan pertemanan. Ia sering membawa bedcover, patung, serta berbagai kerajinan untuk memenuhi permintaan teman temannya. Saat libur kuliah ia pulang ke Bali dengan membawa VCD untuk dijual, lalu kembali ke Yogyakarta dengan membawa kerajinan khas Bali. Aktivitas ini memperkaya pengalaman bisnis sekaligus memperluas jaringan relasi. Ia juga mengikuti kursus desain grafis seperti photoshop dan corel yang semakin menambah keterampilannya sebelum menyelesaikan pendidikan pada tahun 2000.

Setelah kembali ke Bali, Ketut mulai meniti perjalanan usaha secara lebih serius. Ia sempat bekerja dalam produksi keramik untuk dupa bersama temannya bernama Wayan. Kolaborasi tersebut melahirkan nama Wake yang berasal dari gabungan nama Wayan dan Ketut. Produk keramik yang mereka hasilkan dipasarkan ke artshop di kawasan Tegallalang hingga akhirnya memiliki tempat usaha sendiri. Kerjasama tersebut berjalan selama empat tahun sebelum keduanya memutuskan melanjutkan perjalanan masing masing. Tahun 2005 menjadi titik awal Ketut merintis Wake secara mandiri.

Perjalanan bisnis Wake berkembang melalui berbagai fase. Ia pernah membuka counter di Matahari Mall lalu menjadi pemasok produk di kawasan Bambu. Setelah itu ia membuka usaha di Bali Collection selama tiga tahun. Pengalaman tersebut memperkuat posisinya dalam industri retail kerajinan. Ia kemudian membuka toko di Kuta yang masih beroperasi hingga sekarang. Usaha retail tersebut berkembang pesat hingga sempat melahirkan Q Mart dengan jumlah mencapai delapan belas gerai. Ketut kemudian memperluas cakupan bisnis dengan memasuki sektor wisata petualangan melalui Wake Bali Adventure. Ia juga mendirikan Dolphin Bali yang bergerak dalam penangkaran lumba lumba. Kepeduliannya terhadap pendidikan mendorongnya mendirikan Bali Qita yang menyediakan jenjang playgroup, taman kanak kanak, serta sekolah dasar yang tetap berjalan hingga saat ini.

Masa pandemi menjadi tantangan besar yang mengubah arah strategi bisnisnya. Ketut memilih memperluas kegiatan ke sektor peternakan dan pertanian melalui Wake Farm sebagai cara menjaga produktivitas sekaligus mengalihkan tekanan pikiran. Ia mengembangkan usaha budidaya lele, bebek petelur, serta kambing. Usaha tersebut berjalan selama dua tahun sebelum akhirnya ia kembali memusatkan perhatian pada bisnis utama setelah kondisi pariwisata mulai pulih.

Semangat Ketut untuk terus berkembang terlihat ketika Wake Bali kembali memperluas jaringan usaha. Tahun 2025 menjadi langkah penting dengan dibukanya cabang di Jakarta dan Surabaya. Cabang Jakarta berlokasi di Bandara Soekarno Hatta yang menjadi pintu pertemuan wisatawan dari berbagai penjuru. Saat ini Wake Bali memiliki enam toko dengan empat berlokasi di Bali serta dua di Pulau Jawa. Seluruh usaha tersebut berada di bawah naungan PT Wahyu Usaha Kencana dengan jumlah karyawan mencapai puluhan orang yang turut menjadi bagian dari perjalanan panjang usaha ini.

Perjalanan Ketut memperlihatkan bagaimana ketekunan, keberanian mengambil peluang, serta kesediaan belajar dari berbagai pengalaman mampu membentuk fondasi usaha yang kuat. Ia terus memelihara harapan agar dunia pariwisata kembali bergairah dan membuka kesempatan lebih luas bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang. Keyakinan itu dijaga melalui kerja keras yang konsisten serta komitmen untuk terus menciptakan inovasi yang selaras dengan perkembangan zaman, sehingga Wake Bali dapat tetap mengalir sebagai bagian dari cerita panjang pariwisata dan kreativitas Bali yang tidak pernah berhenti tumbuh.


Share on Whatsapp

Bali Pers