Dari perjuangan masa kecil,
keberhasilan membangun usaha, hingga pengabdian untuk menumbuhkan sesama.
Ada keberhasilan yang diukur
melalui besarnya usaha, luasnya jaringan, dan panjangnya perjalanan karier.
Namun, ada keberhasilan lain yang nilainya jauh melampaui pencapaian pribadi:
ketika pengalaman hidup seseorang menjadi sumber inspirasi, ketika pengetahuannya
membuka jalan bagi orang lain, dan ketika kehadirannya memberikan dorongan bagi
mereka yang sedang berjuang membangun masa depan.
I Ketut Ardana, S.H., merupakan
sosok yang perjalanan panjangnya di dunia pariwisata Bali dapat dipandang
melalui kedua dimensi tersebut. Ia membangun karier dari bawah, menumbuhkan
usaha perjalanan wisata, memimpin organisasi profesi, mengembangkan jejaring
internasional, dan mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Di balik perjalanan
profesionalnya, terdapat semangat untuk terus belajar, bekerja, dan berbagi.
Bagi Ardana, pariwisata bukan
semata-mata industri yang mempertemukan destinasi dengan wisatawan. Di dalamnya
terdapat manusia, kesempatan, pengetahuan, persahabatan, dan harapan untuk
mencapai kehidupan yang lebih baik. Karena itu, keberhasilan dalam industri ini
tidak cukup hanya diukur dari apa yang berhasil dibangun untuk diri sendiri,
tetapi juga dari seberapa luas manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Dari Kesederhanaan, Tumbuh
Keteguhan
Lahir di Karangasem, Bali, pada
17 September 1956, Ardana dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Nengah
Kerti, bekerja sebagai petani penggarap dan pernah menjalani pekerjaan sebagai
kusir cikar. Sementara itu, ibunya, Ni Nengah Arsi, turut menopang kehidupan
keluarga melalui kegiatan berdagang.
Dari lingkungan keluarga itulah
ia mengenal arti perjuangan. Kehidupan mengajarkannya bahwa harapan harus
disertai usaha, bahwa kesempatan perlu diperjuangkan, dan bahwa keterbatasan
tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti melangkah
Sejak masih duduk di bangku
sekolah dasar, Ardana telah terbiasa membantu memenuhi kebutuhan hidup melalui
kegiatan berdagang. Ia pernah menjual kue nasi bungkus dan koran. Pengalaman
tersebut memperkenalkannya pada kehidupan masyarakat secara langsung, melatih
keberanian berinteraksi, sekaligus membangun kemandirian sejak usia muda.
Ketika tinggal di Denpasar, ia
mulai tertarik pada dunia pariwisata. Kedatangan wisatawan mancanegara di
kawasan Bali Hotel membangkitkan rasa ingin tahunya terhadap dunia yang lebih
luas. Ia mempelajari bahasa Inggris secara mandiri, mengumpulkan kosakata dari
percakapan yang didengarnya, dan mencoba berkomunikasi dengan wisatawan
sebisanya.
Tidak ada jalan pintas dalam
proses itu. Ia belajar dari apa yang tersedia di sekelilingnya, memanfaatkan
kesempatan kecil, dan mengembangkan kemampuan secara bertahap.
Ardana menempuh pendidikan di
Denpasar, melanjutkan ke SMP Negeri 1 Denpasar dan SMA Wijaya Kusuma Denpasar,
kemudian memasuki Fakultas Hukum Universitas Warmadewa. Pendidikan dan
pengalaman hidup berjalan beriringan, membentuk pemahaman yang kelak berguna
dalam menjalani profesi, mengelola usaha, serta membangun hubungan dengan
orang-orang dari berbagai latar belakang.
Perjalanan tersebut menjadi
fondasi bagi seorang profesional yang kelak dikenal melalui kiprahnya dalam
industri pariwisata Bali.
Menapaki Jalan Profesional
dari Bawah
Pada 1978, Ardana memperoleh
kesempatan bergabung dengan PT Jan's Tour melalui rekomendasi pamannya. Ia
memulai dari pekerjaan operasional, termasuk tugas sebagai kurir dan tenaga
serabutan, sebelum kemudian dipercaya menjalankan tanggung jawab yang lebih
besar.
Bagi Ardana, pekerjaan awal bukan
sekadar kewajiban untuk memperoleh penghasilan. Setiap tugas merupakan
kesempatan untuk memahami industri dari dekat. Ia mempelajari bagaimana
perusahaan perjalanan bekerja, bagaimana kebutuhan wisatawan dilayani, dan bagaimana
kepercayaan dibangun melalui ketepatan serta kualitas pelayanan.
Dari pekerjaan operasional, ia
kemudian memperoleh pengalaman sebagai operator telepon dan menjalankan tugas
acting manager pada 1983. Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana pengalaman,
kesediaan belajar, dan ketekunan dapat menjadi modal untuk melangkah menuju
tanggung jawab profesional yang lebih besar.
Di tengah perjalanan tersebut, ia
juga membangun kehidupan keluarga bersama Ni Nyoman Nukerdi, yang dinikahinya
pada 1983. Ia melanjutkan pendidikan dan terus mengembangkan kapasitas dirinya,
sekalipun tanggung jawab pekerjaan dan keluarga semakin besar.
Ardana kemudian menjalani profesi
sebagai pramuwisata lepas di berbagai biro perjalanan. Pekerjaan ini memberinya
kesempatan untuk berinteraksi dengan wisatawan dari beragam negara, memahami
karakter pasar, serta memperkenalkan kekayaan alam dan budaya Bali.
Dalam profil profesionalnya
tercatat penghargaan sebagai Best Tour Guide in Bali pada 1988 dan peringkat
ketiga dalam ajang pramuwisata tingkat nasional pada 1990. Pengalaman tersebut
menjadi bagian dari perjalanan profesional yang memperkuat pemahamannya
mengenai pentingnya kompetensi, keramahan, dan tanggung jawab dalam melayani
wisatawan.
Ia juga pernah menjalani
pengalaman promosi paket wisata Bali ke Thailand. Upaya memperkenalkan produk
wisata secara langsung kepada calon mitra memperluas wawasannya mengenai
pemasaran internasional dan pentingnya membangun jaringan bisnis lintas negara.
Perjalanan dari pekerjaan
sederhana menuju dunia profesional memberinya satu modal penting: pemahaman
bahwa keberhasilan membutuhkan proses. Ia mengenal industri dari lapangan
sebelum kemudian memasuki ranah pengelolaan usaha dan kepemimpinan organisasi.
Bali Sunshine Tours: Membangun Keberhasilan dari Pengalaman
Perjalanan Ardana selanjutnya
memasuki tahap kewirausahaan. Setelah memperoleh pengalaman di bidang
operasional, pelayanan, dan pemasaran perjalanan wisata, ia mengembangkan usaha
yang dikenal sebagai Bali Sunshine Tours, dengan nama badan usaha PT Bali Sinar
Mentari Tours and Travel.
Di bawah kepemimpinannya, Bali
Sunshine Tours berkembang pesat dan menjadi bagian penting dari perjalanan
profesionalnya. Pertumbuhan usaha tersebut mencerminkan bagaimana pengalaman
lapangan dapat menjadi bekal dalam membangun perusahaan, mengembangkan hubungan
bisnis, dan memperluas jangkauan pelayanan.
Dalam industri perjalanan wisata,
keberhasilan tidak dibangun hanya melalui penawaran paket perjalanan.
Perusahaan harus memahami kebutuhan pasar, membangun kepercayaan pelanggan,
menjaga hubungan dengan mitra, serta memberikan pelayanan yang konsisten. Setiap
perjalanan yang direncanakan membawa tanggung jawab terhadap waktu, kenyamanan,
dan harapan wisatawan.
Pengalaman Ardana sebagai
pramuwisata memberinya pemahaman mengenai kebutuhan tamu dari sudut pandang
langsung. Pengalaman operasional dan manajerial memperluas pengetahuannya
tentang cara kerja perusahaan, sedangkan kemampuan membangun komunikasi membantu
membuka hubungan dengan berbagai mitra.
Perpaduan pengalaman tersebut
menjadi bagian dari perjalanan pengembangan Bali Sunshine Tours. Ia tidak
memulai usaha dari ruang yang sepenuhnya asing, melainkan membawa bekal
pengetahuan yang diperoleh melalui proses panjang dalam industri pariwisata.
Keberhasilan membangun perusahaan
juga memperlihatkan sisi lain dari karakter seorang pengusaha: keberanian
mengambil tanggung jawab, kesediaan menghadapi perubahan, dan kemampuan melihat
peluang di tengah persaingan.
Namun, nilai sebuah perusahaan
tidak hanya terletak pada nama dan kegiatan usahanya. Di balik keberlangsungan
bisnis terdapat hubungan dengan pelanggan, mitra, tenaga profesional, serta
berbagai pihak yang turut menggerakkan industri. Semakin luas jaringan yang
dibangun, semakin besar pula kebutuhan untuk memelihara kepercayaan dan kerja
sama.
Pengalaman Ardana dalam
mengembangkan usaha kemudian menjadi bekal yang bermanfaat bagi perannya di
lingkungan organisasi profesi dan pendidikan. Apa yang dipelajarinya melalui
dunia bisnis memberinya perspektif praktis mengenai tantangan yang dihadapi pelaku
pariwisata.
Dua Periode Memimpin ASITA
Bali
Pada 22 November 2012, Ardana
terpilih sebagai Ketua ASITA Bali melalui Musyawarah Daerah XII. Ia kemudian
memimpin organisasi tersebut selama dua periode, yakni 2012–2016 dan 2016–2021.
Kepemimpinan dalam organisasi
profesi memiliki tanggung jawab yang berbeda dari pengelolaan perusahaan. Jika
seorang pengusaha berfokus pada keberlangsungan dan perkembangan usaha, seorang
pemimpin organisasi harus mampu mempertemukan kepentingan banyak pihak,
mendengarkan persoalan anggota, serta memperjuangkan kepentingan industri
secara lebih luas.
Ardana menjalankan peran tersebut
ketika industri perjalanan wisata menghadapi perubahan besar. Perkembangan
teknologi digital mengubah cara wisatawan mencari informasi dan melakukan
pemesanan, sementara pelaku usaha lokal harus terus menyesuaikan diri dengan
persaingan pasar.
Pada 2019, ia memimpin audiensi ASITA Bali dengan DPRD Provinsi Bali untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi industri pariwisata. Pembahasan mencakup persoalan sampah, kemacetan, kelebihan pasokan kamar, perizinan, dan persaingan usaha.
Keterlibatan tersebut
memperlihatkan pentingnya organisasi profesi sebagai ruang komunikasi antara
pelaku industri dan pemangku kebijakan. Persoalan pariwisata tidak dapat
diselesaikan hanya oleh satu perusahaan atau satu kelompok usaha. Diperlukan
koordinasi, komunikasi, dan kesediaan berbagai pihak untuk mencari jalan
keluar.
Pengalaman memimpin ASITA Bali
juga menempatkan Ardana dalam lingkungan yang mempertemukannya dengan beragam
pelaku industri. Hubungan tersebut memberikan kesempatan untuk bertukar
pandangan, memperluas wawasan, dan mendorong kerja sama demi kemajuan pariwisata
Pada 29 Oktober 2021,
kepemimpinan ASITA Bali beralih kepada I Putu Winastra. Ardana menuntaskan dua
periode kepemimpinannya, tetapi keterlibatannya dalam dunia pariwisata terus
berlanjut.
Bagi seorang profesional yang
telah lama berkecimpung dalam industri, pergantian jabatan bukan berarti
berakhirnya kontribusi. Pengalaman yang telah dikumpulkan tetap dapat
dibagikan, sementara kesempatan untuk mendukung generasi penerus selalu terbuka
melalui berbagai ruang pengabdian.
BBTF dan Jejaring Pariwisata
Internasional
Kiprah Ardana juga berkaitan
dengan Bali & Beyond Travel Fair (BBTF), forum bisnis perjalanan wisata
yang mempertemukan pelaku industri dengan mitra pasar dari berbagai negara.
Profil profesionalnya mencatat keterlibatannya sebagai ketua sejak
penyelenggaraan awal pada 2014.
Forum bisnis semacam BBTF
memiliki arti penting dalam memperluas akses pasar bagi produk wisata
Indonesia. Pertemuan antara penjual dan pembeli membuka kesempatan untuk
membangun kemitraan, memperkenalkan destinasi, serta mengembangkan hubungan
bisnis yang berkelanjutan.
Bali memiliki kekayaan alam dan
budaya yang menjadi daya tarik wisatawan. Namun, potensi tersebut perlu
didukung oleh kemampuan pemasaran, jaringan distribusi, kualitas layanan, dan
profesionalisme pelaku industri.
Pengalaman Ardana di dunia
perjalanan wisata membuatnya memahami bahwa pasar internasional tidak dibangun
hanya melalui promosi sesaat. Hubungan bisnis membutuhkan kepercayaan,
komunikasi yang berkelanjutan, serta kemampuan memahami kebutuhan mitra.
Melalui keterlibatannya dalam
pengembangan jejaring pariwisata, ia menjadi bagian dari upaya mempertemukan
potensi destinasi dengan peluang pasar. Dalam konteks yang lebih luas,
pengembangan pasar juga membuka ruang bagi semakin beragamnya produk wisata dan
semakin luasnya kesempatan bagi pelaku usaha.
Bagi Ardana, pengalaman membangun
hubungan profesional merupakan salah satu modal penting yang dapat diteruskan
kepada generasi berikutnya. Industri pariwisata membutuhkan orang-orang yang
tidak hanya memahami produk, tetapi juga mampu membangun kerja sama dan menjaga
kepercayaan.
Dosen yang Membagikan
Pengalaman
Di samping kiprahnya sebagai
pengusaha dan pemimpin organisasi, Ardana juga menjalankan peran sebagai dosen.
Peran ini memberikan dimensi penting pada perjalanan hidupnya: meneruskan
pengetahuan kepada generasi yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia
profesional.
Pengalaman seorang praktisi yang
telah melewati berbagai tahapan karier memiliki nilai tersendiri dalam
pendidikan. Mahasiswa tidak hanya membutuhkan teori, tetapi juga pemahaman
mengenai bagaimana pengetahuan diterapkan dalam kehidupan kerja, bagaimana menghadapi
perubahan, dan bagaimana mengambil keputusan ketika berhadapan dengan persoalan
nyata.
Ardana membawa pengalaman dari
dunia pelayanan wisata, pengelolaan perusahaan, pemasaran, dan organisasi
profesi ke dalam ruang pembelajaran. Perjalanan tersebut memberinya perspektif
mengenai hubungan antara kompetensi, etika kerja, kemampuan berkomunikasi, dan
tanggung jawab profesional.
Lebih dari sekadar menyampaikan
pengetahuan, peran seorang pendidik juga berkaitan dengan kemampuannya
menumbuhkan kepercayaan diri mahasiswa. Generasi muda membutuhkan ruang untuk
bertanya, keberanian untuk mencoba, dan dorongan untuk mengembangkan potensi
yang mereka miliki.
Dalam kehidupan profesional,
tidak semua orang langsung menemukan jalannya. Ada yang membutuhkan kesempatan
pertama, ada yang memerlukan arahan, dan ada pula yang membutuhkan seseorang
untuk meyakinkan bahwa keterbatasan saat ini bukanlah akhir dari perjalanan.
Di sinilah peran pendidik menjadi
penting. Pengetahuan yang diberikan dapat membantu mahasiswa memahami dunia
kerja, sedangkan pengalaman dan dorongan yang dibagikan dapat memperkuat
kesiapan mereka untuk melangkah.
Bagi Ardana, dunia pendidikan
merupakan ruang lain untuk meneruskan nilai-nilai yang telah membentuk
perjalanan hidupnya: ketekunan, kemauan belajar, keberanian menghadapi
tantangan, dan kesediaan untuk terus berkembang.
Mengembangkan Sesama,
Memperluas Arti Keberhasilan
Ada satu dimensi yang membuat
perjalanan Ardana patut mendapat perhatian lebih dari sekadar daftar jabatan
dan pencapaian profesional: semangatnya untuk mendukung perkembangan orang
lain.
Dalam lingkungan pariwisata yang
bertumpu pada hubungan antarmanusia, pengetahuan dan pengalaman akan semakin
bernilai apabila tidak berhenti pada pemiliknya. Seorang profesional dapat
membantu orang lain berkembang melalui berbagi pengalaman, membuka jaringan,
memberikan masukan, atau sekadar menumbuhkan keberanian untuk mengambil
kesempatan.
Mahasiswa membutuhkan pendidik
yang mendorong mereka melihat masa depan. Rekan seprofesi membutuhkan ruang
untuk bertukar pengetahuan dan memperkuat kerja sama. Pelaku usaha membutuhkan
hubungan yang sehat agar dapat berkembang bersama. Sementara itu, generasi muda
memerlukan contoh bahwa keberhasilan dapat dibangun melalui proses panjang,
bukan semata-mata melalui keberuntungan.
Ardana menjalani kehidupan
profesional dalam berbagai lingkungan tersebut. Pengalaman sebagai pengusaha
mempertemukannya dengan tantangan bisnis; kepemimpinan organisasi membawanya
berhadapan dengan kepentingan bersama; sedangkan perannya sebagai dosen membuka
ruang untuk berbagi pengetahuan kepada generasi penerus.
Nilai pengabdian semacam ini
tidak selalu dapat diukur melalui angka atau penghargaan. Terkadang, dampaknya
terlihat dari seseorang yang menjadi lebih percaya diri setelah memperoleh
dorongan, rekan kerja yang menemukan cara baru untuk mengembangkan usaha, atau
mahasiswa yang lebih siap menghadapi tantangan setelah mendapatkan bekal
pengetahuan.
Dukungan kepada sesama merupakan
bentuk kontribusi yang dapat berlangsung jauh melampaui masa jabatan. Ketika
seseorang membagikan pengalaman dan membantu orang lain berkembang, manfaatnya
dapat diteruskan melalui perjalanan orang-orang yang pernah memperoleh
kesempatan tersebut.
Di sinilah keberhasilan
memperoleh makna yang lebih luas. Usaha yang berkembang menunjukkan kemampuan
membangun organisasi bisnis. Kepemimpinan menunjukkan kepercayaan yang
diberikan oleh lingkungan profesional. Pendidikan dan pendampingan menunjukkan
bahwa pengalaman dapat diteruskan untuk memperkuat generasi berikutnya.
Ketiganya merupakan bagian dari perjalanan Ardana yang layak mendapat
apresiasi.
Tetap Berkontribusi bagi
Pariwisata Bali
Perjalanan pengabdian Ardana
tidak berhenti setelah ia menyelesaikan dua periode kepemimpinan ASITA Bali.
Pada 2 Oktober 2023, ia tercatat berbagi pengalaman dalam kegiatan peningkatan
kompetensi Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali. Ia menceritakan
perjalanan profesionalnya, termasuk pengalaman memasarkan paket wisata Bali ke
Thailand.
Kegiatan tersebut memperlihatkan
pentingnya berbagi pengalaman di antara generasi profesional pariwisata.
Industri yang terus berkembang membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya
menguasai pengetahuan teknis, tetapi juga memahami pelayanan, komunikasi lintas
budaya, dan perubahan kebutuhan wisatawan.
Pada Oktober 2026, Ardana kembali
mengambil peran dalam agenda organisasi yang pernah dipimpinnya. Ia dipercaya
sebagai Ketua Panitia Pengarah atau Steering Committee Musda XV ASITA Bali.
Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari proses organisasi dan regenerasi
kepemimpinan.
Peran ini menunjukkan bahwa
pengalaman seorang profesional senior tetap dapat memberikan manfaat setelah
masa kepemimpinan formalnya berakhir. Organisasi memerlukan kesinambungan
pengetahuan, pemahaman terhadap sejarah kelembagaan, dan ruang bagi generasi
penerus untuk mengambil tanggung jawab.
Bagi Ardana, perjalanan panjang
di dunia pariwisata telah memberinya kesempatan untuk melihat perubahan
industri dari berbagai sisi. Ia mengenal pekerjaan operasional, memahami
tantangan usaha, menjalani tanggung jawab organisasi, dan berinteraksi dengan
generasi yang sedang mempersiapkan masa depan profesionalnya.
Pengalaman tersebut menjadi modal
yang berharga bagi upaya membangun pariwisata Bali yang lebih profesional,
berdaya saing, dan berkelanjutan.
Ekspansi Bisnis
Dalam perjalanan karier
bisnisnya, I Ketut Ardana, S.H., berkesempatan membeli lahan seluas empat
hektare di Plaga, Kabupaten Badung, yang semula dibayangkannya sebagai kawasan
perkebunan. Sebagian lahan tersebut kemudian dimanfaatkannya untuk kegiatan perkebunan.
Namun, seiring berjalannya waktu, Ardana mulai melihat potensi yang jauh lebih
besar di balik bentang alam yang dimilikinya. Lembah yang memesona, aliran
sungai, serta kawasan hutan dengan keindahan alamnya membangkitkan naluri dan
kepekaannya sebagai seorang begawan pariwisata. Ia melihat bahwa kekayaan alam
tersebut bukan sekadar hamparan lahan, melainkan sebuah potensi destinasi yang
dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata alam yang berkesan.
Dari pemikiran itulah lahir Plaga
Eco Park, kawasan wisata alam berkonsep glamping (glamorous camping) yang
berkembang dari lima unit glamping pada tahap awal menjadi 25 unit, dilengkapi
restoran, beragam aktivitas wisata alam, serta spot-spot fotografi yang
memikat. Wahana ayunan ekstrem (swing) dan jembatan dek kayu yang estetik dan
Instagramable turut memperkaya daya tarik kawasan tersebut. Pengembangan Plaga
Eco Park menjadi cerminan kemampuan Ardana dalam membaca potensi tersembunyi
sebuah kawasan, mengolah keindahan alam menjadi daya tarik wisata, dan
menghadirkan nilai ekonomi tanpa melepaskan karakter alami lingkungannya. Di
titik inilah naluri bisnis bertemu dengan pengalaman panjangnya di dunia
pariwisata: sebuah lahan yang semula dipersiapkan untuk perkebunan
bertransformasi menjadi destinasi wisata alam yang menawarkan perpaduan
keindahan bentang alam, rekreasi, dan pengalaman menginap di tengah suasana
alam.
Begawan Pariwisata Bali
Perjalanan panjang Ardana dalam
industri pariwisata, menumpahkan seluruh dedikasinya dalam tumbuh kembang dunia
pariwisata Bali dan sekaligus mengabdikan keilmuannya pada nadi pendidikan,
menyiapkan kader unggul praktisi pariwisata ke depan dan kiprahnya tanpa henti
di organisasi profesi, telah menjadikannya sosok begawan pariwisata yang sarat
dengan pengalaman dan pengabdian yang telah dijalaninya.
Perjalanan hidupnya
memperlihatkan bahwa keberhasilan tidak dibangun dalam satu malam. Ada masa
ketika ia harus memulai dari pekerjaan sederhana, belajar melalui pengalaman,
dan membangun kepercayaan secara bertahap. Ada masa ketika ia mengembangkan
usaha, memimpin organisasi, dan memperluas jejaring profesional. Ada pula fase
ketika pengalaman yang dimilikinya menjadi bekal untuk mendukung orang lain.
Bali Sunshine Tours menjadi
bagian penting dari perjalanan kewirausahaannya. ASITA Bali menjadi ruang
pengabdian dalam kepemimpinan profesi. BBTF memperlihatkan keterlibatannya
dalam pengembangan jejaring pasar pariwisata. Sementara itu, perannya sebagai
dosen membuka kesempatan untuk meneruskan pengetahuan kepada generasi penerus.
Di balik seluruh perjalanan
tersebut, terdapat nilai yang patut dihargai: kesediaan untuk terus belajar dan
semangat untuk membantu orang lain berkembang.
Seorang tokoh dapat meninggalkan nama melalui jabatan yang pernah diembannya. Namun, pengaruh yang lebih panjang lahir ketika pengalaman dan nilai yang dibawanya tetap berguna bagi orang lain. Pengetahuan yang dibagikan, kesempatan yang dibuka, serta dukungan yang diberikan dapat menjadi bagian dari perjalanan banyak orang setelah suatu masa kepemimpinan berakhir.
I Ketut Ardana, S.H., telah
menapaki perjalanan panjang dari Karangasem menuju dunia pariwisata yang lebih
luas. Ia membangun usaha, mengemban tanggung jawab organisasi, mengajar, dan
terus mengambil bagian dalam perkembangan industri yang menjadi salah satu
pilar penting perekonomian Bali.
Pada akhirnya, penghormatan
terhadap seorang begawan tidak hanya terletak pada lamanya ia berkarya atau
besarnya tanggung jawab yang pernah diemban. Penghormatan itu juga tumbuh dari
makna yang ditinggalkannya: pengetahuan yang diteruskan, semangat yang ditumbuhkan,
hubungan yang dipelihara, dan orang-orang yang memperoleh dorongan untuk
melangkah lebih jauh.
Sebab, keberhasilan yang paling
bermakna bukan hanya ketika seseorang berhasil membangun masa depannya sendiri,
melainkan ketika perjalanan hidupnya turut membuka jalan bagi keberhasilan
orang lain.


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)



.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)