Langkah hidup tidak selalu berawal dari ruang yang lapang atau pilihan yang mudah. Ada perjalanan yang tumbuh perlahan melalui kehilangan, perpindahan, dan penyesuaian yang tidak selalu terlihat dari luar. Dari pengalaman itulah ketahanan dibentuk, bukan lewat suara keras, melainkan melalui keberanian yang tenang dan konsisten. Anak Agung Oka Kartini menjalani hidup dengan ritme semacam itu. Sejak usia sangat muda, perubahan telah menjadi bagian dari kesehariannya. Lingkungan berganti, peran bergeser, dan tanggung jawab datang lebih cepat daripada kebanyakan anak seusianya. Namun alih alih menjadi beban, semua itu justru menempa cara pandangnya terhadap hidup. Setiap fase dijalani dengan kesadaran untuk belajar, setiap kesempatan disambut dengan kesiapan untuk bekerja, dan setiap langkah diambil dengan keyakinan bahwa usaha yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya sendiri.
Anak Agung Oka Kartini lahir pada tahun 1937 dari keluarga yang menjunjung pendidikan dan kerja keras. Ayahnya berprofesi sebagai guru pada masa pemerintahan Belanda, sementara orang tuanya yang lain dikenal sebagai pedagang yang ulet. Garis keturunannya terhubung dengan Puri Kaleran Peliatan, sebuah lingkungan yang sarat nilai tradisi dan tanggung jawab sosial. Namun hidup sejak awal telah mengajarkannya tentang perubahan. Saat usia masih sangat belia, ia kehilangan sosok yang melahirkannya. Sejak umur tiga tahun, ia tidak lagi tinggal di lingkungan puri dan kemudian dibesarkan oleh bibinya.
Masa kecilnya berlangsung di Ubud, sebuah kawasan yang saat itu belum seramai sekarang. Di tempat inilah ia mengenyam pendidikan dasar hingga sekolah menengah pertama. Kehidupan sehari hari membentuk karakternya lebih kuat daripada sekadar pelajaran di kelas. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia telah diajak berjualan kacang di pinggir jalan bersama bibinya sepulang sekolah. Aktivitas itu bukan beban baginya. Justru sebaliknya, ia menikmati proses bertemu orang, menghitung hasil jualan, dan merasakan kebanggaan memiliki uang saku dari usaha sendiri. Pengalaman sederhana itu perlahan menumbuhkan naluri dagang yang kelak menjadi fondasi kuat dalam hidupnya.
Di sekolah, Anak Agung Oka Kartini dikenal sebagai siswi yang aktif dan berprestasi. Ia tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki keberanian tampil di depan banyak orang. Bakat menyanyi membawanya meraih berbagai penghargaan di lingkungan sekolah. Keterlibatannya dalam pementasan teater melatih rasa percaya diri dan kemampuan berkomunikasi. Semua itu membentuk pribadi yang luwes, berani, dan terbuka terhadap dunia luar.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, hidup kembali membawanya pada perubahan besar. Ia pindah ke Ambon untuk mengikuti kakaknya yang telah lebih dahulu menetap di sana. Lingkungan baru dengan rumah yang berdekatan dengan pantai membuka cakrawala lain tentang kehidupan. Setelah menamatkan pendidikan SMA, ia memilih untuk langsung bekerja. Keputusan ini menandai babak baru sebagai perempuan muda yang mandiri dan siap belajar dari dunia nyata.
Pekerjaan pertamanya adalah di Museum Ratna Warta. Selama tiga tahun bekerja di sana, ia menyerap banyak pengetahuan di luar pendidikan formal. Bahasa Inggris menjadi salah satu keterampilan yang ia kuasai dengan sangat baik. Ia juga belajar memahami kebiasaan dan cara berpikir orang dari berbagai negara. Lingkungan museum yang dekat dengan dunia pariwisata memberinya sudut pandang baru tentang potensi budaya sebagai jembatan antarbangsa. Kepercayaan besar datang ketika ia diminta menjadi pemandu bagi perwakilan WHO yang berkunjung ke Indonesia untuk menangani wabah malaria. Pengalaman ini semakin mengasah kepercayaan dirinya dan memperluas jaringan pergaulan.
Setelah itu, ia sempat bekerja di sebuah hotel di Ubud dalam kurun waktu yang cukup lama. Dunia perhotelan memberinya pemahaman tentang pelayanan, keramahan, dan pentingnya kenyamanan bagi tamu. Pada masa inilah ia membangun kehidupan keluarga bersama sang suami. Pernikahan tidak menghentikan langkahnya untuk terus bergerak. Justru dari sinilah cikal bakal usaha mandiri mulai tumbuh.
Sebidang tanah yang diberikan oleh bibinya menjadi titik awal perjalanan kewirausahaan yang sesungguhnya. Tanah tersebut ia bagi menjadi beberapa petak. Satu bagian digunakan untuk mendirikan kios kecil tempat ia berjualan, sementara bagian lainnya disewakan. Berbagai jenis dagangan pernah ia coba. Mulai dari jajanan tradisional, makanan ringan, hingga kerajinan tangan khas Bali. Proses mencoba dan menyesuaikan diri dengan pasar dijalani dengan sabar. Hingga akhirnya, lukisan menjadi komoditas yang mengubah arah hidupnya.
Kios lukisan miliknya mulai ramai dikunjungi wisatawan asing. Percakapan dengan para pengunjung membuka wawasan baru. Banyak dari mereka menyarankan agar ia menyediakan tempat menginap sederhana bagi pelancong yang ingin tinggal lebih lama di Ubud. Saran itu tidak berlalu begitu saja. Ia membaca peluang dengan jeli. Pada masa itu, jumlah penginapan di Ubud masih sangat terbatas. Dari sinilah Oka Kartini Bungalows lahir, yang hangat dan bersahaja.
Seiring berjalannya waktu, Ubud semakin dikenal sebagai destinasi wisata internasional. Usaha penginapannya berkembang pesat, kondisi ekonominya membaik, dan namanya semakin dikenal luas.
Salah satu titik penting dalam perjalanan bisnisnya terjadi ketika seorang tamu wisatawan bernama Jared Coverus mengabarkan bahwa rekannya membutuhkan produksi rambut palsu. Dari perkenalan tersebut, lahirlah PT Rambut Indah. Sebelum mendirikan perusahaan ini, Oka Kartini bahkan sempat belajar langsung ke Belanda. Usaha tersebut berkembang sangat pesat hingga menjangkau Pulau Jawa, memiliki sekitar 300 karyawan, serta menarik perhatian nasional. Pada masa itu, ia bahkan didatangi oleh Menteri Rudini dan diliput oleh media-media ibu kota.
Dalam perjalanan membangun usaha yang semakin besar, ia menghadapi berbagai tantangan, khususnya perbedaan visi dan misi dengan mitra bisnis. Dengan keteguhan prinsip, ia akhirnya memutuskan untuk melepas partner dan melanjutkan usaha secara mandiri.
Kini, di usia yang tidak lagi muda, Anak Agung Oka Kartini memilih menjalani kehidupan dengan ritme yang lebih tenang, tanpa sepenuhnya melepaskan aktivitas yang telah membesarkan namanya. Kesehariannya lebih banyak dihabiskan untuk mengelola galeri lukisan yang berada di rumahnya sebuah ruang yang merefleksikan perjalanan panjangnya bersama seni, wisata, dan dunia usaha. Meski lingkup kegiatannya kini lebih sederhana, semangat berkarya dan keterlibatannya dalam kegiatan sosial, termasuk melalui Rotary International, tetap terjaga. Kehidupannya menjadi kesaksian bahwa keberhasilan bukan hanya tentang membangun dan mengembangkan, tetapi juga tentang mengetahui kapan harus melepaskan, sembari tetap setia pada nilai kerja keras, ketekunan, dan keberanian membaca peluang yang telah membentuk seluruh perjalanan hidupnya.