Sayangi Gumi Bali



Ada sosok yang memilih berjalan pelan namun meninggalkan jejak panjang. Ia tidak hanya berbicara tentang masa kini, tetapi juga tentang warisan yang harus dijaga untuk masa depan. Dalam setiap gagasan yang disampaikannya, tersimpan kegelisahan sekaligus harapan. Kisah ini adalah tentang Prof. Tjok Oka Sukawati, seorang tokoh Bali yang melihat pulau kelahirannya bukan sekadar ruang hidup, melainkan amanah yang harus dirawat dengan ilmu, nilai, dan kebijaksanaan.

Prof. Tjok Oka Sukawati yang lebih dikenal dengan nama Cok Ace lahir di Gianyar, Bali, pada tanggal 23 Agustus 1956. Ia tumbuh di lingkungan yang kental dengan tradisi, sejarah, dan nilai budaya Bali. Sejak awal, kehidupannya tidak pernah terlepas dari denyut kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat. Pengalaman inilah yang kelak membentuk cara pandangnya dalam melihat Bali sebagai sebuah kesatuan utuh, bukan sekadar wilayah administratif.

Pendidikan menjadi salah satu jalan penting yang ia tempuh dengan kesungguhan. Ia mengenyam pendidikan tinggi hingga akhirnya meraih gelar doktor di Fakultas Sastra Universitas Udayana pada tahun 2008. Dunia akademik memberinya ruang untuk memahami Bali secara lebih mendalam, bukan hanya dari sisi praktik kehidupan sehari hari, tetapi juga dari sudut pandang sejarah, sastra, dan filosofi. Ilmu yang ia peroleh tidak berhenti sebagai pengetahuan pribadi, melainkan menjadi bekal untuk pengabdian yang lebih luas

Perjalanan pengabdiannya tercermin dalam peran peran strategis yang pernah ia jalani. Ia pernah menjabat sebagai Bupati Gianyar, sebuah wilayah yang dikenal sebagai jantung seni dan budaya Bali. Dalam peran ini, ia berhadapan langsung dengan dinamika masyarakat, pariwisata, dan pelestarian budaya. Pengalaman tersebut memperkaya pemahamannya tentang tantangan nyata yang dihadapi Bali di tengah arus perubahan. Pada periode 2018-2023, ia mengemban amanah sebagai Wakil Gubernur Bali. Posisi ini memberinya ruang lebih luas untuk melihat Bali secara menyeluruh, lintas kabupaten dan lintas kepentingan.

Cok Ace menyadari bahwa pariwisata Bali kini mulai berangsur membaik. Wisatawan asing dan domestik kembali berdatangan. Namun ia juga melihat ironi yang menyertai kebangkitan tersebut. Peningkatan jumlah wisatawan tidak selalu sejalan dengan kenaikan okupansi dan pendapatan daerah. Ia menduga kondisi ini dipengaruhi oleh ketidaktaatan sebagian pihak dalam membayar pajak serta maraknya pembangunan akomodasi ilegal yang tidak tercatat secara resmi. Bagi Cok Ace, persoalan ini bukan semata soal angka, tetapi soal keadilan dan keberlanjutan.

Selain sektor pariwisata, perhatiannya juga tertuju pada kualitas generasi muda Bali. Ia menilai bahwa tantangan terbesar bukan hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam. Pemahaman generasi muda terhadap nilai dasar sebagai orang Bali dinilainya mulai melemah. Padahal nilai tersebut merupakan fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Tanpa pemahaman yang kuat terhadap identitas dan filosofi hidup Bali, pembangunan apa pun berisiko kehilangan arah dan makna.

Dalam melihat Bali, Cok Ace menolak pendekatan parsial yang memisahkan satu kabupaten dengan kabupaten lain. Ia memandang Bali sebagai satu kesatuan ruang dan jiwa. Dari pemikiran inilah ia mengembangkan konsep zonasi ruang Padmabhuwana. Baginya, setiap wilayah di Bali memiliki peran dan taksu yang saling melengkapi. Bagian Timur yang meliputi Karangasem ia tempatkan sebagai pusat religiusitas, konservasi kesusastraan, tradisi, serta wisata berbasis religi dan budaya tradisional. Bagian Selatan yang mencakup Nusa Penida, Denpasar, dan Badung ia pandang sebagai pusat aktivitas ekonomi dan industri kreatif. Bagian Barat yang meliputi Jembrana dan Tabanan diarahkan sebagai pusat pengembangan budidaya pertanian dan perikanan. Bagian Utara yang mencakup Bangli dan Buleleng memiliki peran penting sebagai pusat konservasi air dan penguatan sistem irigasi subak. Sementara Bagian Tengah yang meliputi Klungkung dan Gianyar menjadi pusat pengembangan seni, budaya, dan wisata sejarah.

Meski membagi Bali berdasarkan dominasi potensi ruang, Cok Ace tidak pernah menutup kemungkinan hadirnya potensi lain di setiap wilayah. Paradigma Padmabhuwana baginya bukan pembatas, melainkan panduan agar pembangunan berjalan selaras dengan karakter alam dan budaya setempat. Dengan cara ini, Bali diharapkan tumbuh secara seimbang tanpa kehilangan jati dirinya.

Cok Ace memahami bahwa kompleksitas persoalan Bali tidak mungkin diselesaikan oleh satu atau dua orang. Ia meyakini bahwa ini adalah pekerjaan bersama seluruh masyarakat Bali. Atas dasar itulah ia terus mengambil peran aktif meski tidak lagi berada dalam struktur pemerintahan. Saat ini ia aktif sebagai Ketua PHRI Bali dan juga Kepala Pramuka Kwarda Bali. Melalui peran tersebut, ia terus mendedikasikan diri untuk Bali, membawa pemahaman dan ilmu yang telah ia kumpulkan sepanjang hidupnya untuk membantu sektor pariwisata serta agar membantu penguatan dan pera generasi muda nantinya.

Dalam setiap langkahnya, Cok Ace selalu menekankan pentingnya memperkaya kecerdasan, kepekaan rasa, dan nilai estetika. Baginya, ketiga hal ini adalah fondasi untuk memperkuat identitas sebagai orang Bali. Tanpa kecerdasan, pembangunan akan rapuh. Tanpa kepekaan rasa, kebudayaan akan kehilangan jiwa. Tanpa estetika, kehidupan akan kehilangan keseimbangan.

Pesan yang ia sampaikan kepada masyarakat Bali terdengar sederhana namun memiliki makna mendalam. Sayangi Gumi Bali. Ia mengingatkan bahwa Bali bukan warisan untuk dihabiskan, melainkan titipan yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Dalam pandangannya, menjaga Bali berarti menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai nilai luhur yang telah diwariskan turun temurun.

Perjalanan hidup Prof. Tjok Oka Sukawati adalah cermin dari dedikasi yang tidak berhenti pada jabatan. Ia terus bergerak, berpikir, dan mengabdi dengan keyakinan bahwa Bali akan tetap berdiri kokoh jika dijaga dengan kesadaran kolektif. Di tengah perubahan zaman yang cepat, ia memilih menjadi penjaga arah, memastikan Bali melangkah maju tanpa kehilangan rohnya.


Share on Whatsapp

Bali Pers